Dampak Besar Virus Corona Terhadap Ekonomi Global

blog post

Wabah virus corona Covid-19 memiliki dampak besar terhadap perekonomian global. Bahkan dampak itu lebih bisar dibandingkan kasus SARS pada tahun 2003 yang juga terjadi di China. Sebab, saat ini peran China jauh lebih besar terhadap perekonomian dunia, sehingga dampaknya pun akan lebih besar.

Sebagai dampak dari penyebaran Covid-19, Goldman Sach dan Oxford Economics merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi China dari sebelumnya masing-masing sebesar 5,9 persen dan 6,0 persen menjadi 5,5 persen dan 5,4 persen.

”Aktivitas rantai nilai global terganggu. Banyak perusahaan internasional yang memproduksi salah satu bagian outputnya di China. Dikarenakan wabah corona virus, pabrik-pabrik di China terpaksa ditutup dan berhenti berproduksi,” kata Direktur Keuangan PT. Kawasan Berikat Nusantara (Persero), Daly Mulyana pada acara sosialisasi penanganan virus corona di Kantor Pusat KBN, Cakung, Jakarta, Senin 2 Maret 2020.

Akibat berhentinya produksi di China, Daly Mulyana melanjutkan, aktivitas perdagangan global menurun. Baltic Dry Index menunjukkan penurunan sebesar -57,5 persen per 7 Februari (year to date/ytd). Volume kontainer di Pelabuhan Shanghai turun 7,9 persen sepanjang Januari 2020.

Setelah sempat meningkat pada akhir 2019, harga komoditas internasional kembali turun. Harga minyak Brent turun 17,8 persen per 7 Februari (ytd), salah satunya didorong oleh turunnya permintaan avtur seiring pembatalan penerbangan ke dan dari China. Harga komoditas ekspor utama Indonesia, seperti CPO dan Nikel kembali turun.

Pasar keuangan global terkoreksi dan mengalami peningkatan volatilitas, tetapi di awal Februari mulai pulih, kecuali di negara terkena wabah. Aktivitas pariwisata terganggu seiring dengan isolasi kota, penutupan perbatasan negara, dan pembatalan penerbangan dari dan ke China. Oxford Economics memperkirakan penurunan wisatawan mancanegara China sebesar 7-25 juta orang pada tahun 2020 ini.

Rekomendasi Kebijakan Jangka Pendek

Penurunan wisatawan mancanegara ditutup dengan mendorong peningkatan wisatawan domestik. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menurunkan harga tiket pesawat. Terdapat potensi penurunan harga tiket seiring dengan turunnya harga minyak dunia, yang akan berdampak pada turunnya harga Avtur.

”Terdapat ruang bagi kebijakan moneter untuk kembali menurunkan suku bunga, memberikan stimulus terhadap perekonomian. Otoritas moneter dan jasa keuangan juga harus menjamin ketersediaan likuditasdi tengah tekanan negatif corona virus,” ujar Daly Mulyana.

Antisipasi dampak perlambatan ekonomi domestik dengan memberikan stimulus bagi komponen terbesar dalam PDB, yakni konsumsi rumah tangga. Alternatif program seperti cash for work atau tambahan PKH dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi APBN dan mekanisme penambahan program baru tanpamelalui APBN-Perubahan.

Akselerasi pengajuan dan penyelesaian Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja dan aturan turunannya, serta penyelesaian revisi Perpres DNI untuk mendorong peningkatan investasi di semester II tahun 2020.

Kemudian perlu implementasi konkrit program penggunaan produk dalam negeri, melalui pengadaan barang dan jasa pemerintah dan BUMN, pembelian bahan baku industri, konsumsi masyarakat, melakukan strategi percepatan peningkatan industri untuk meredam potensi dampak perlambatan industri dan pengolahan dikarenakan gangguan rantai pasokan global.

Direktur Pengembangan KBN Rahayu Ahmad Junaedi mengatakan, yang peling penting dilakukan dalam situasi saat ini adalah kehati-hatian. Dia juga berharap semua pihak di KBN responsive terhadap situasi yang ada. Dia juga mengingatkan perlunya langkah penghematan untuk mendukung pencapaian target perseroan.

”Menjaga keseimbangan cash flow dengan memprioritaskan pengeluaran biaya yang bersifat urgent,” katanya. (*)