KBN Menuju Kawasan Industri Berstandar Internasional

blog post

Menyikapi arus perubahan industri 4.0 yang tak bisa dibendung, PT KBN Persero yang core tak tinggal diam. BUMN bidang kawasan industri multipurpose yang terintegrasi dengan pelabuhan ini pun terus berbenah. Targetnya, menjadi kawasan industri yang bukan saja dikenal di Asia, tapi dunia.

Kawasan industri merupakan salah satu bisnis yang bisa terelakkan dari revolusi 4.0 itu. Kalau mau terus bertahan dengan cara-cara lama tentu bukan saja akan ditinggalkan pasar, tapi boleh jadi seperti berjalan menuju ke lorong kegelapan, kemunduran, dan boleh jadi berakhir dengan kebangkrutan.

Jadi, kawasan industri yang sifatnya dinamis -- dituntut untuk luwes dengan perubahan. Kawasan industri di Indonesia yang pada umumnya masih memakai paradigma lama tentu juga harus berubah agar bisnis yang dijalani bisa tetap eksis sesuai tuntutan zaman.

Menyikapi revolusi industri 4.0, PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Persero yang core business-nya di sektor kawasan industri melihat ini bukan saja ancaman, tapi juga peluang. Paling tidak momen untuk untuk menata ulang agar kawasan industri ini bukan saja dikenal di kawasan Cakung, Cilincing, Jakarta Utara atau Jakarta Timur, tapi juga Asia, bahkan dunia.

Melihat kondisi yang ada sekarang, kedengarannya itu seperti hanya mimpi di siang bolong. Tapi, bukan berarti rencana itu sesuatu yang terlalu ambisius dan tidak mungkin untuk diwujudkan, karena kini secara bertahap akan diwujudkan direksi dan segenap pegawai PT KBN Persero.

“Mimpi itu menantang saya untuk mewujudkannya,” kata Direktur Pengembangan PT KBN Persero, Rahayu Ahmad Junaedi dalam perbincangan khususnya dengan majalah KBN, baru-baru ini.

Didi – begitu direksi baru ini sering disapa – ingin merealisasikan mimpi besarnya menjadikan KBN kawasan industri bukan saja berkelas nasional atau Asia, tapi berstandar internasional - kelas dunia.

Berlebihankah? Tentu tidak. Ia melihat potensi KBN luar biasa. Salah satunya lokasinya sangat strategis. Memiliki lahan yang sangat luas yang hanya sekitar 5 km dari pelabuhan (port), ini tak dimiliki kawasan industri lain.

Belum bicara soal potensi di Marunda yang memiliki pantai dan akan dikembangkan jadi pelabuhan untuk mendukung upaya pemerintah di bidang transportasi laut. Sungai Blencong yang membelah kawasan Marunda dan selama ini sudah dijadikan dermaga juga bisa dikembangkan lebih besar lagi. Potensi seperti ini jarang dimiliki kawasan industri mana pun. Inilah yang membuatnya begitu optimis.

Bicara soal letak geografis KBN yang berdekatan dengan Pelindo II juga potensi lain yang perlu dimanfaatkan lebih maksimal. Ke depan bisa disinergikan dengan bisnis Pelindo II sebagai pendukung pergudangan dan lainnya. Ini tentu akan berujung pada penambahan income KBN di masa datang.

Direktur Pengembangan sedang berusaha membuat grand design untuk memetakan KBN ke depan mau seperti apa. Blue print (cetak biru) tersebut tentu dikaitkan dengan trend terkini dan masa depan kawasan industri yang cenderung akan mengarah kepada smart industrial estate.

Ke depan, tentu bisnis logistik yang dikembangkan tidak seperti sekarang lagi, tapi mengarah kepada logistic robotic. Perusahaan-perusahaan yang disasar juga yang berteknologi tinggi (hi-tech).

Untuk mewujudkan rencana tersebut yang terpenting tentu perlu kerja keras segenap jajaran KBN. Harus mau mengubah cara berpikir (mindset), agar impian itu tidak hanya sekadar mimpi di siang bolong. “Jangan seperti ular, begitu sudah makan langsung tidur panjang,” kata Didi mengumpamakan.

“PR Besar”

Berpijak pada realita di lapangan yang ada sekarang, ini tentu sebuah “PR besar”. Diakuinya, membenahi KBN diakuinya bukan pekerjaan yang ringan. Benar-benar harus ada upaya ekstra kuat agar semua langkah tercurah ke arah sana.

Dirbang Rahayu Ahmad Junaedi telah memetakannya menjadi tiga tier, di mana tier I menyangkut kawasan industri itu sendiri, tier kedua menyasar unit logistik, air, properti, dan tier ketiga terkait bisnis beton.

Pada tier I yang akan berjalan dari minggu ke minggu (week to week), Didi menyebut akan memulai dengan penyehatan lingkungan, seperti menjadikan kawasan yang bebas sampah, debu, bau-bau yang mengganggu, jalan berlubang, ada genangan air, dan lainnya.

Barang-barang rongsokan yang selama ini mengganggu pandangan mata harus segera dijadikan uang. Jangan sampai ada lahan terganggu oleh barang rongsokan yang bikin mata ‘sepet’.

Para pedagang yang selama ini memanfaatkan kantin untuk berjualan dan jorok harus dicarikan solusinya agar tidak jadi tempat kumuh yang justru mengganggu nilai produk KBN. Begitu pun PKL yang seenaknya menjual makanan di depan pabrik atau pinggir-pinggir jalan harus ditata dengan membuatkan kantin yang lebih layak.

“Ini yang harus serius dibenahi, karena bikin produk kita (KBN, pen.) menjadi rendah,” kata Didi.

Didi sedang memikirkan bagaimana kalau nantinya ada semacam food court  dengan pola subsidi silang dengan yang mampu, sehingga tidak seperti sekarang pada jam-jam makan siang semua PKL seperti sesuka hatinya jualan di dekat pabrik-pabrik.

Penataan juga menyangkut akses untuk banyak pihak yang masuk ke KBN. Mulai transportasi ojek, angkut-an buruh, pedagang kaki lima, dan lainnya. Perlu ada semacam e-gate agar jelas siapa saja yang masuk dan untuk kepentingan apa ke KBN.

“Kalau melihat sekarang seperti kawasan tak bertuan kan? Ini tantang-an buat kita selaku pengelola untuk segera membenahinya,” kata Didi.

Semua perlu pembenahan dan penataan kembali menjadi lebih baik, karena semua potensi dari kacamata bisnis juga bisa berujung pada kontribusi bagi KBN juga.

Sebaliknya, bila kondisi tersebut tak terkelola dengan baik hanya akan membuat produk-produk KBN sema-kin sulit untuk dijual. Ini sangat tidak menguntungkan KBN.

“KBN cuma akan jadi last choice, pilihan terakhir ketika yang lain tak ada lagi. Ini secara tak langsung akan mengancam kelangsungan bisnis KBN ke depan,” kata Dirbang.

Akibat dari semua itu membuat nilai tawar kita rendah. Dampak ikutan dari semua ini, mitra atau investor sering kali malah mendikte KBN. Ini harus jadi indikator serius untuk segera membenahi diri. (Sumber: www.infokbn)